Kegagalan saya yang pertama yang saya tahu adalah ketika akan berdiri, ketika akan berjalan dan ketika akan berlari. Jatuh rasanya sakit, tapi ada kenikmatan untuk terus mencoba tanpa perlu memusingkan berapa banyak kegagalan yang telah terjadi. Ketika SD, tepatnya kelas 2 saya ikut lomba agama antar masjid. Saya kalah saya tidak menang apa-apa. Saya hanya menang dalam memberantas rasa takut dalam diri untuk terus mencoba. Ketika kelas 3 SD, ada event lomba agama yang serupa namun saingannya lebih banyak saya mulai menang beberapa lomba keagamaan. Ketika kelas 4 SD, saya menang segala lini lomba keagamaan yang dilombakan saat itu kecuali Adzan. Maklum untuk merubah suara tidak mudah ditambah nada bicara yang aneh. Ketika kelas 5 dan 6 SD, saya juga menang semuanya kecuali lomba Adzan.
Ketika kelas 1 MTs, saya sudah tidak bisa ikut lomba agama antar masjid karena batas usia hanya sampai 12 tahun. Saat kelas 1 MTs, saya mulai ikut lomba bidang akademik. Namun, dari kelas 1-3 saya selalu kalah. Entah saingan saya yang begitu kuat atau saya yang begitu malas atau saya yang bodoh atau karena guru saya yang memberitahu mengenai lomba yang diadakan 3 hari sebelum lomba. Untuk orang yang pernah ikut lomba atau sudah punya lomba di bidang pengetahuan umum mungkin tidak begitu masalah. Tapi bagiku tidak, aku tidak tahu materi lomba, dimana lombanya, dan sebagainya. Sebenarnya, saat kelas 3 MTs saya MUNGKIN SAJA bisa mendapatkan 1 kemenangan. Namun, jiwa ini letih raga ini lelah dengan berbagai kegagalan. Diri ini butuh semangat baru. Lomba saat itu mengenai Karya Tulis Ilmiah, pesertanya sangat kurang padahal kategori lomba ada banyak. Otomatis menang semua pesertanya. Padahal jika saat itu saya ikut dan saya menang mungkin saya bisa berhasil masuk di SMA yang saya damba-dambakan, Sakit hati ini karena tidak mau mencoba begitu dalam, menusuk relung hati yang paling dalam. Bahkan sampai saat ini masih belum terlupakan, kegagalan untuk tidak berani mencoba itulah yang sampai saat ini menjadi api semangat dalam mencoba.
Ketika SMA, saya ikut lomba Karya Tulis Ilmiah berkali-kali tapi selalu kalah, Tapi dalam setiap kekalahan itu saya belajar banyak hal mengenai Karya Tulis Ilmiah. Ketika SMA, saya juga ikut lomba video-video kreatif yang di upload di youtube, saya memang terus kalah sepanjang kelas 10-11. Selama itu pula, saya sering mengganti anggota tim saya, sebab jiwa ini memiliki semangat tempur yang kuat. Namun, anggota pendukung loyo. Maka ya hancurlah. Mungkin mereka loyo karena selama ikut lomba dengan saya selalu saja gagal. Hingga akhirnya beberapa kali saya ikut lomba tanpa mengajak siapa-siapa. Bukan tanpa maksud, saya kasihan melihat mereka sedih, sudah berusaha namun nihil hasil.
Ketika kelas 3 SMA, mendekati semester 2, saya mengikuti sebuah lomba video mengenai wirausaha. selama berhari-hari saya membuat semacam video flash, saya jarang tidur. Kemudian ketika video telah jadi, saya mempromosikan kepada teman-teman saya untuk like video saya di youtube. Siang dan malam kulalui dengan mencari like dari teman temanku. Perjuangan selama 2 bulan itu membuahkan hasil. Aku menang lomba. Yah selama di SMA cuma itu kemenangan saya yang dapat di nilai dari sebuah kertas.
Jadi, kesimpulannya ini bukan masalah seberapa banyak waktu, biaya, usaha, dan sebagainya yang dikorbankan untuk memperoleh sesuatu. Tapi seberapa kuat untuk mampu bangkit dari seluruh kegagalan yang telah terjadi. Mencoba mungkin tidak pasti menang, namun tidak mencoba sudah PASTI tidak akan menang. So, apa salahnya mencoba. Teruslah mencoba, habiskan jatah gagalmu di masa muda. (y)
No comments:
Post a Comment